Monday, 13 June 2011

Budidaya_JahePart1



JAHE
( Zingiber Officinale )

SEJARAH SINGKAT 
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal  dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai  bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku  temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak  (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica),  kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain. Nama daerah jahe  antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi  (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb. 

SENTRA PENANAMAN 
Terdapat di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah  banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir,  Yunani, India, Indonesia,  Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas  tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia. 

SYARAT PERTUMBUHAN 
  • Iklim 
  1. Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun. 
  2. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari. 
  3. Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35o C. 
  • Media Tanam 
  1. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
  2. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik. 
  3. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0. 
  • Ketinggian Tempat 
  1. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 m dpl. 
  2. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl. 
PEDOMAN BUDIDAYA 
  • Pembibitan 
  1. Persyaratan Bibit 
Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain: 
a.    Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar). 
b.    Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan). 
c.    Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet. 

2.    Teknik Penyemaian Bibit
Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan. 
a)    Penyemaian pada peti kayu 
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya  diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai. 
b)   Penyemaian pada bedengan 
Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton  (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas  rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram. 
c)    Penyiapan Bibit 
Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam. 

·         Pengolahan Media Tanam 
a)    Persiapan Lahan 
Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal harus diperhatikan syaratsyarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman jahe. Bila keasaman tanah yang ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tanaman jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.
b)   Pembukaan Lahan 
Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg. 
c)    Pembentukan Bedengan 
Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. 
d)   Pengapuran 
Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji. 
a.    Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha. 
b.    Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha. 
c.    Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha. 
d.    Pengapuran dilakukan 2 minggu Sebelum tanam. 
e.    Pupuk hayati MiG-6 PLUS 3 hari sebelum tanam, semprotkan/siramkan larutan MiG-6 PLUS (1 liter MiG-6 PLUS : air max 200 liter) pada permukaan bedengan. Biarkan selama 3 hari, kemudian bibit siap ditanam. Tahap ini diperlukan 2 liter MiG-6PLUS/Ha. 

·         Teknik Penanaman 
a)     Penentuan Pola Tanaman 
      Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu  memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi dan produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut: 
1.      Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga. 
2.     Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman. 
3.     Meningkatkan produktivitas lahan. 
4.     Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu). Praktek di lapangan, ada jahe yang ditumpangsarikan dengan sayursayuran, seperti ketimun, bawang merah, cabe rawit, buncis dan lainlain. Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya. 
b)    Pembutan Lubang Tanam 
      Untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubanglubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam bibit. 
c)     Cara Penanaman 
      Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan. 
d)     Perioda Tanam 
      Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. 

·         Pemeliharaan Tanaman 
1.    Penyulaman 
Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan untuk melihat rimpang yang mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik serta pemeliharaan yang benar. 
2.     Penyiangan 
Penyiangan pertama dilakukan ketika  tanaman jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar. 
3.     Pembubunan 
Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali  selama umur tanaman jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan. 
e)      Pemupukan 
1.     Pemupukan Organik 
Pada pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan. 
2.    Pemupukan Konvensional 
Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.
3.    Pemberian pupuk hayati MiG-6PLUS
Pada saat pemeliharaan, berikan larutan pupuk hayati MiG-6PLUS (1 liter MiG-6PLUS : air max 200 liter) pada lahan di sekitar perakaran, ulangi setiap 2 bulan sekali sampai bulan ke 6. Pada tahap ini kebutuhan pupuk hayati MiG-6PLUS masing-masing sebanyak 2 liter per ha.
4.    Pengairan dan Penyiraman 
Tanaman Jahe tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September.
f)                Waktu Penyemprotan Pestisida 
Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yang untuk disemai dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan jahe. 


Sumber:
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
MIG Corp.


Tuesday, 7 June 2011

Back To the Nature_Cabai

Sistematika Tumbuhan

Cabai
Capsicum annum L.
Nama umum
Indonesia:Cabai, cabe merah, lombok gede (Jawa), cabe (Sunda),
Inggris:chili pepper
Pilipina:Siling Haba
Cina:la jiao
Capsicum annum
Cabai

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Asteridae
                         Ordo: Solanales
                             Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
                                 Genus: Capsicum
                                     Spesies: Capsicum annum L.

Kerabat Dekat
Paprika, Cabai Rawit

sumber :

Uraian Tumbuhan
Tumbuhan terna agak berkayu, tinggi dapat mencapai 1 meter, berbatang basah, berbulu pendek dan tipis pada bagian ujung dan berbentuk bulat telur atau lonjong, pada bagian ujung berbentuk pita. bunga bergerombol 1-3, mahkota bunga warna putih, bentuk bulat memanjang. buah bentuk bulat telur, sampai bentuk telur memanjang, ujung tumpul atau runcing, panjang 10-15 cm.

Jenis cabai

  • Cabe merah

  • Cabe rawit


Nama Simplisia
  • Capsisi fruktus: buah cabai
Cabai Merah Bagian yang Digunakan
  • Daun muda: untuk daya sebar, dipetik sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah masak, dikumpulkan saat tumbuhan tumbuh maksimal, tetapi tidak setelah kena hujan
  • Buah : Untuk energi yang turun, dikumpulkan saat belum masak, atau pada permulaan masak
Cabai rawit Bagian yang Digunakan
  • Seluruh bagian tumbuhan : tumbuhan diatas tanah, tumbuhan berikut akar, dikumpulkan saat tumbuhan tumbuh maksimal berdaun lebat, dikumpulkan saat masih muda
  • Buah : untuk Qi yang turun, dikumpulkan saat belum masak, atau pada permulaan masak
  • Akar : untuk qi yang naik, dikumpulkan saat belum bertunas atau setelah layu
  • Daun : untuk daya sebar, di petik sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah masak, dikumpulkan saat tumbuh maksimal, tetapi tidak setelah kena hujan
  • Batang : dapat naik turun, untuk mengharmoniskan qi, dikumpulkan saat tumbuh maksimal
Sifat dan Rasa
  • Panas-hangat : menghangati tubuh dalam, menghilangkan dingin, memulihkan kehangatan
  • Pedas : berkhasiat menyebarkan menggerakkan
Organ pengantar cabai rawit 
  • Masuk meridian jantung dan pankreas
Khasiat cabai rawit
  • Tumbuhan cabai rawit berkhasiat tonik
  • Stimulant
  • Kuat untuk jantung
  • Memperlancar aliran darah
  • Antirematik
  • Menghancurkan bekuan darah
  • Meningkatkan nafsu makan
  • Perangsang kulit
  • Peluruh kentut
  • Peluruh keringat
  • Peluruh liur
  • Peluruh kencing
Khasiat cabai merah
  • Memperlancar peredaran darah
  • Stimulant
  • Meningkatkan nafsu makan
  • Peluruh keringat
  • Perangsang kulit
  • Obat gosok
Kandungan kimia cabai merah : kapsaisina, kapsisina, kapsantina, karotenoida, dihidrokapsaisin, zeasantin, zat besi, kalium, kalsium, fosfor dan niasin, minyak lemak, vitamin A, B, dan C

Efek farmakologi
  • Vitamin C : dibutuhkan untuk pembuatan kolagen (protein berserat yang membentuk jaringan ikat pada tulang), pengangkut lemak, pengangkut elektron dari berbagai reaksi enzimatik, pemicu gusi yang sehat, pengatur tingkat kolesterol, pemicu sistem kekebalan tubuh
  • Vitamin C : untuk antioksidan, membantu mencegah berbagai macam jenis kanker : kanker paru, kolon, kandung kemih, pankreas, payudara, juga mengurangi radikal bebas pemicu kanker
  • Vitamin C : dapat mengurangi resiko katarak, memperkuat dinding kapiler darah, mengurangi resiko penyakit jantung, menghambat penuaan, memperbaharui sel darah putih
  • Vitamin C sangat sensual untuk membentuk sperma, kekurangan vitamin C pada pria dapat menghambat dalam memperoleh keturunan, perbaikan membutuhkan waktu satu bulan dengan meningkatkan vitamin C sebanyak 500 mg, kualitas dan kuantitas sperma serta aktifitasnya dapat ditingkatkan dengan mengkonsumsi vitamin C
  • Vitamin C dapat mengurangi resiko pada perokok pasif. resiko perokok pasif adalah kerusakan sel yang bisa menyebabkan kanker atau penyakit pernafasan lain
  • Vitamin A dapat mencegah buta senja, mempercepat penyembuhan luka, dan mempersingkat lamanya sakit campak
  • Vitamin B : bagian dari enzim yang berperan dalam proses tubuh, misalnya dalam menghasilkan energi, metabolisme lemak, kolesterol dan karbohidrat serta pembuatan beberapa senyawa tubuh seperti hormon sex dan adrenalin
  • Zat besi : untuk pembentukan butir darah merah dan beperan dalam pusat pengaturan molekul hemoglobin sel-sel darah merah, juga berperan dalam metabolisme energi, termasuk sintesis DNA oleh beberapa enzim, serta dalam kekebalan tubuh
  • Kalium : membantu kerja jantung dan menormalkan tekanan darah
  • Kalsium : mengisi kepadatan tulang, berperan dalam pembentukan gigi, membantu pembekuan darah transmisi saraf, stimulasi otot, stabilitas asam basa (pH) darah, dan mempertahankan keseimbangan air.
  • Fosfor : untuk kesehatan gigi dan tulang
Khasiat
  • Stomakik, spasmolitik, karminatif, dan diaforetik
Kegunaan cabai merah
Buah 
  • Membangkitkan nafsu makan
  • Mengobati rematik
  • Mengobati nyeri otot
  • Sariawan
  • Sakit gigi
  • Influenza
Getah dauun Muda
  • Mempermudah persalinan
  • Obat luka
  • Obat sakit gigi
Kegunaan cabai rawit
  • Menambah nafsu makan
  • Menormalkan kaki dan tangan yang lemas
  • Batuk berdahak
  • Melegakan hidung tersumbat pada sinusitis
  • Mengobati migren
Dosis pemakaian
  • Luar : rebus 0,5-1 gram buah, lalu air rebusnya digunakan sebagai kompres. selain itu buah cabai dapat dicampur dengan bahan lain untuk obat gosok. getah daun muda digunakan untuk pengobatan luka, bisul, dan sakit gigi.
  • Dalam : 0,5-1 gram buah cabai haluskan jadi serbuk, rebus atau seduh lalu diminum
Catatan
  • Hati-hati bagi yang tidak tahan pedas
  • Penderita sakit saluran pencernaan, sakit tenggorokkan dan sakit mata dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi cabai rawit
  • Rasa pedas di lidah menimbulkan rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorphin (opiate endogen) yang dapat menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan perasaan lebih sehat
  • Hasil penelitian terbaru, cabai rawit dapat mengurangi kecenderungan terjadinya penggumpalan darah, menurunkan kadar kolesterol, dengan cara mengurangi produksi kolesterol dan trigliserida dalam hati
  • Pada sistem reproduksi, sifat cabai rawit yang panas dapat mengurangi rasa tegang dan sakit akibat sirkulasi darah buruk
  • Kandungan antioksidannya juga cukup tinggi, seperti Vitamin C dan betakaroten
  • cabai rawit juga dapat digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan
  • Afrodisiak
  • Memperlambat proses penuaan
Penelitian 
  • R. Sumastuti Sudarto dan Samekto W. fakultas farmasi UGM. Melakukan penelitian pengaruh infus daun cabai terhadap efek peristaltik usus halus binatang percobaan, hasilnya ternyata infus daun cabai menunjukkan pengaruh yang bermakna
  • Tyas Ekowati Prasetyoningsih, 1987. FF UNAIR. Melakukan penelitian ekstrak buah cabai rawit terhadap jamur Candida albicans. hasilnya ekstrak buah cabai rawit mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan  Candida albicans. daya hambat ekstrak cabai rawit 1 mg/ml setara dengan 6,20 mcg/ml niastin dalam formamid
sumber : Abu Muhammad Faris al-Qiyanji. 2010. Kembali ke Alam : Khasiat dan Manfaat Tanaman Berkhasiat Obat. Cetakan Pertama. Jilid 1. Pustaka Lugu Alami. Bekasi

Monday, 6 June 2011

Back To the Nature_Jahe

Sistematika Tumbuhan

Jahe
Zingiber officinale Rosc.
Nama umum
Indonesia:Jahe
Inggris:Ginger
Melayu:Helia, halia, aliya
Vietnam:Cay gung
Thailand:Khing
Pilipina:Luya, laya, giya
Cina:Jiang
Jepang:Shouga
Zingiber officinale
Jahe

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Zingiberales
                             Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
                                 Genus: Zingiber
                                     Spesies: Zingiber officinale Rosc.

Kerabat Dekat
Lempuyang Pahit, Lempuyang Wangi, Bengle, Lempuyang Gajah, Balakatoa

sumber : 


Uraian Tanaman
herba semusim, tegak tinggi 40-50 cm, batang semu beralur, membentuk rimpang warna hijau, daun tunggal, bentuk lanset, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul warna hijau tua. buah majemuk, bentuk bulir sempit ujung runcing, panjang 3-5 cm, lebar 1,5-2 cm, tangkai panjang kurang lebih 2 cm, warna hijau kemerahan, kelopak bentuk tabung, bergigi tiga, mahkota bentuk corong, panjang 2-2,5 cm warna ungu. buah kotak, bulat panjang warna coklat. biji bulat hitam. akar serabut putih kotor.
tumbuhan asal Asia Tenggara dan ada 3 jenis varietas:

  • Jahe gajah (jahe besar)

  • Jahe emprit (jahe kecil)

  • Jahe sunti (jahe merah)


Nama Simplisia
  • Rimpang jahe : Zingiber rhizome, Ginger rhizome, Ganjiang, Shengjing
Bagian yang Digunakan
  • Rimpang : dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhan berhenti
  • Herba : tumbuhan di atas tanah, tumbuhan berikut akar, dikumpulkan saat tumbuhan tumbuh maksimal berdaun lebat, dikumpulkan saat masih muda
Sifat dan Rasa
  • Hangat : menghangatkan tubuh, menghilangkan dingin, membantu menstimulasi sirkulasi darah, meningkatkan tekanan darah, meningkatkan keluarnya keringat, membantu menurunkan temperatur pada saat demam
  • Pedas : menyebarkan/membuyarkan dan menggerakkan energi vital dan darah. Organ penghantar : paru, limpa, dan lambung
  • Merangsang keluarnya keringat
  • Menambah hangat perut tengah, menghentikan mual (muntah)
  • Menambah hangat paru, menghentikan batuk
  • Menawar racun makanan, ikan, udang, kepiting, dll 
Kandungan Kimia
  • Air (80,8%), protein (2,3%), lemak (1%), karbohidrat (12,3%), serat (2,4%), dan abu (1,2%)
  • Rimpang jahe kering : air (10%), minyak (1-3%)
  • Minyak jahe : minyak menguap (volatile oil) dan minyak tidak menguap (nonvolatile oil)
  • Kandungan minyak nonvolatile oil disebut oleoresin, yakni suatu komponen yang memberikan rasa pahit dan pedas
  • Minyak atsiri jahe terhadap beberapa unsur : n-nonyaldehyde, d-camphene, d-a phellandrene, methylheptenone, cineol, d-borneol, geraniol, linalool, acetales dan caprylate, citral, chavicol, dan zingiberene
  • Munyak atsiri dan komponen utamanya : zingiberen, zingiberol, oleoresin denggan komponen utama gingerol
  • Minyak dammar : zingeron. juga 20-60% pati, dammar, asam-asam organik, asam malat, asam oksalat, gingerin
  • Gingerol dan minyak terbang : limonene, 1,8-cineole, 10-dehydroginger-dione, 6-gingerdione, 6-gingerol, arginine, a-linolenic acid, aspartic, B-sitosterol, caprilic acid, capsaicin, chorogenic acid, farnese, farnesal, sineol, N-noninal dehid, D-kamfana, dammar, D.A. falandrena, metal heptenona, D-borneol, geraniol, linalool, sogaol, acetates, kaprilate, sitral, kavikol, zingiberena, glukominol, Vit A, B, C, asam organic, alisin, aliilin, alinase, dialidisulfide resin, tepung kanji, serat, albizin, bisaboleng, kurkumin, zengediasetate, dan metil zingediol
Sifat Kimiawi dan Efek farmakologi
  • Peluruh kentut, perangsang (stimulant), memberikan arma/bumbu, memperlancar sirkulasi darah, menurunkan kolesterol, peluruh keringat, anti muntah, peluruh dahak, sakit perut, anti batuk, anti radang, nafsu makan, merangsang selaput lendir perut dan usus, mengurangi rasa sakit, memperkuat rasa obat lain, yang di campur, merangsang ereksi, menghambat keluarnya enzim
  • S-lipoksigenase, dan siklolinolinic oksigenase, meningkatkan aktivitas kelenjar endokrin, memperlambat proses penuaan, merangsang regenerasi sel kulit
  • Limonene dan caprilic acid (rimpang) : menghambat jamur candida albicans, antikholinesterase, obat flu
  • 1,8 cineole (rimpang) : mengatasi ejakulasi dini, anastetik, antikholinesterasi, perangsang aktivitas saraf pusat, merangsang ereksi, merangsang keluarnya keringat, penguat hepar
  • 10. Dehidrogingerdiona (rimpang) : penekan prstaglandin
  • 6. gingerol (rimpang) : merangsang keluarnya asi, penghambat enzimoksigenese, penekan prostaglandin
  • Arginine (rimpang) : mencegah kemandulan, memperkuat daya tahan hidup sperma
  • a-linolenic acid (rimpang) : antipendarahan diluar haid, merangsang kekebalan tubuh, merangsang produksi getah bening
  • Aspartic-acid (rimpang) : perangsang saraf, penyegar
  • B-sitosterol (rimpang) : merangsang hormone androgen, menghambat hormone estrogen, mencegah hiper lipoprotein, melemahkan potensi sperma, bahan baku steroid
  • Capsaicin (herbal) : merangsang ereksi, menghambat keluarnya enzim s-lipoksigenase, dan siklo oksigenase, meningkatkan kelenjar endokrin
  • Kurkumin : antioksidan, dan antibakteri
  • Resin : minyak esensial berkhasiat antiseptic, antifungal, antiinflamasi, antialergi
  • Vitamin A : merangsang fungsi kekebalan tubuh, menghambat oksidasi kolesterol yang menyumbat arteri, dsb
  • Vitamin B : mengatasi masalah kelainan saraf, membantu memproduksi sel darah merah, dsb
  • Vitamin C : meningkatkan imunitas, meremajakan dan meningkatkan produksi sel darah putih, mencegah penyakit gusi, melindungi arteri, dsb
  • Serat : menjaga kesehatan saluran pencernaan, memperlancar BAB, menyerap racun tubuh dan mengeluarkannya bersama sisa makanan, membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, mencegah terjadinya penyempitan pembuluh darah, dsb
  • Farnesol (rimpang) : mencegah proses penuaan, merangsang regenerasi kulit, bahan pewangi parfum.
Kegunaan :
  • Asam urat
  • Alergi
  • Anemia
  • Alergi udang, biduran
  • Ayan
  • Bronchitis
  • Batuk, batuk kering, batuk rejan, menghilangkan dahak
  • Beri-beri
  • Bersih darah habis bersalin, memperbanyak asi
  • Demam, masuk angina, panas dalam
  • Diare, disentri amoeba
  • Difteri
  • Digigit ular
  • Denyut jantung tidak teratur
  • Eksim, gatal-gatal, panu
  • Frigiditas
  • Gondok (hiperteroid)
  • Gatal digigit serangga
  • Gangguan pencernaan, limpa, paru-paru
  • Haid tidak teratur, nyeri haid, terlambat haid
  • Hernia
  • Hipotensi
  • Influenza
  • Impotent, ejakulasi dini, aprodisiak
  • Jantung berdebar meningkatkan otot jantung
  • Kembung, sakit perut, diare, disentri, kolera
  • keputihan
  • Keseleo
  • Kencing manis
  • Luka, luka memar, lecet, tertikam, kena duri, dll
  • Muntah darah, mual muntah
  • Mencegah infeksi
  • Meningkatkan nafsu makan
  • Memperlancar peredaran darah
  • Menurunkan tekanan darah
  • Menghilangkan dahak
  • Merangsang saluran nafas
  • Melancarkan penyumbatan pembuluh darah
  • Meningkatkan stamina
  • Nyeri dada
  • Nyeri sendi, nyeri otot
  • Polip
  • Perut kembung
  • Pengerasan pembuluh darah
  • Peranakan turun, hernia
  • Peluruh keringat
  • Penghangat badan
  • Penghilang bau badan
  • Pegel linu
  • Penghilang lelah, meningkatkan stamina
  • Radang paru, saluran nafas, tenggorokkan, amandel, lambung, usus, sendi, payudara
  • Rematik, anti radang pada rematik
  • Rematik jantung
  • Radang usus, lambung, tenggorokkan
  • Stimulasi (perangsang mukosa)
  • Sakit perut
  • Sakit kepala, pusing, vertigo, migren
  • Sulit tidur
  • Sinusitis
  • Sesak nafas (asma)
  • Sakit pinggang
  • Terlambat haid, nyeri haid, lancar haid
  • Tukak lambung
  • Uban sebelum waktuunya, penumbuh rambut, dsb
Dosis Pemakaian Umum
  • Luar : rimpang, jahe secukupnya haluskan tempel pada bagian yang sakit
  • Dalam : 5-20 g rimpang jahe rebus lalu airnya diminum selagi hangat, atau ditambah dengan tumbuhan obat lain
Hasil Penelitian
  • Latifah, 1987. Jurusan Farmasi FMIPA UNPAD melakukan penelitian pengaruh analgesik perasan rimpang jahe merah pada mencit. hasilnya : ternyata perasan rimpang jahe merah memberikan efek yang nyata, terhadap perpanjangan waktu reaksi. semakin besar dosis yang diberikan semakin besar efek perpanjangan waktu reaksi (efek pengurangan sensitifitas rasa sakit). pemberian perasan rimpang jahe merah antara 199,8 mg/kg bb dan 218,0 mg/kg bb mempunyai daya analgesik yang setara dengan daya analgesik asam salisilat 10 mg/kgg bb.
  • Ema Viaza, 1991. Jurusan farmasi FMIPA UI melakukan penelitian efek antijamur jahe terhadap jamur Tricophytonb mentagrophytes, Tricophyton rubrum, Microsporum canis. hasilnya : ternyata jamur Tricophytonb mentagrophytes, Tricophyton rubrum, Microsporum canis memberikan kadar hambat minimum sebagai berikut : 6,25 ; 12,5 mg/ml. berdasarkan zona hambatan yang diperoleh, efek antijamur tertinggi diberikan terhadap jamur Tricophytonb mentagrophytes kemudian disusul Tricophyton rubrum, dan Microsporum canis.
sumber : Abu Muhammad Faris al-Qiyanji. 2010. Kembali ke Alam : Khasiat dan Manfaat Tanaman Berkhasiat Obat. Cetakan Pertama. Jilid 1. Pustaka Lugu Alami. Bekasi

Sunday, 5 June 2011

Back To the Nature_Asam Jawa

Sistematika Tumbuhhan

Asam Jawa
Tamarindus indica L.
Nama umum
Indonesia:Asam jawa, asem (Jawa, Sunda), celagi (Bali), bak mee (Aceh)
Inggris:Tamarind
Pilipina:Sampalok
Cina:luo wang zi, suan jiao
Tamarindus indica
Asam Jawa

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Rosidae
                         Ordo: Fabales
                             Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
                                 Genus: Tamarindus
                                     Spesies: Tamarindus indica L.

Sumber: 
http://www.plantamor.com/index.php?plant=1229



Morfologi
Pohon asam sering ditanam sebagai pohon pelindung di tepi jalan raya. Di pedesaan, asam ditanam sebagai pohon buah. Asalnya dari Afrika Tropis kemudian menyebar ke India, dan sekarang banyak ditanam di daerah tropis lainnya. Pohon ini  terdapat di dataran rendah pada daerah yang musim kemaraunya jelas sampai kering.  Pohon tinggi 15–25 m, bercabang banyak, dan berkayu keras. Daun majemuk  menyirip genap, panjang 5–13 cm, terdapat 10–15 pasang anak daun yang duduknya  berhadapan dan bertangkai sangat pendek, hampir duduk. Helaian anak daun  bentuknya bulat panjang, ujung dan pangkal membulat, bagian tepi rata. Kedua permukaan daun halus dan licin, berwarna hijau dengan warna sisi bawah lebih muda, 
panjang 1–2,5 cm, lebar 0,5–1 cm. Bunga dalam karangan berbentuk tandan yang panjangnya 2–16 cm, terdiri atas  6–30 kuntum bunga yang letaknya hampir duduk, berwarna kuning berurat merah,  keluar dari ketiak daun atau ujung percabangan. Buah polong, bertangkai, bulat  panjang pipih, panjang 3,5–20 cm, lebar 2,5–4 cm, bagian ujung melancip, di antara  biji kerap menyempit, kulit dinding luar rapuh, dan berwarna cokelat muda. Daging buah berwarna kuning sampai cokelat kekuningan dan rasanya asam. Biji 1–12 cm,  warnanya cokelat mengkilap. Pohon asam berbuah sepanjang tahun. Daun asam jawa  muda disebut sinom. Berasa asam dan dapat digunakan sebagai penyedap masakan. Perbanyakan dengan biji dan secara vegetatif (Dalimartha, 2006).





Kandungan Kimia
Daging buah, daun dan batang  Tamarindus  indica L. mengandung saponin, flavonoid dan tanin (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1994).


Bagian yang Digunakan
Buah tanpa biji, daun, bunga, kulit kayu, dan biji. Buah dipetik setelah masak 
untuk digunakan segar atau setelah dikeringkan (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1994).


Penggunaan
Daun asam jawa digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional karena  mempunyai beberapa khasiat.  Rasa buah asam, manis, bersifat sejuk, astringen.  Daging buah asam berkhasiat pencahar (laksan), penyejuk, pereda demam  (antipiretik), antiseptik, abortivum, dan meningkatkan nafsu makan. Daun berkhasiat  penurun panas (antipiretik), pereda nyeri (analgesik) dan antiseptik (Dalimartha, 
2006), antimikroba (Doughari, 2006)


Sumber : 

  • Doughari JH. 2006. Antimicrobial activity of Tamarindus indica Linn.  Tropical J Pharmaceu  Res  5(2):597-603. 
  • Syamsuhidayat, S.S and Hutapea, J.R, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, edisi kedua, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
  • Dalimartha, S, 1999, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I, Trubus Agriwidya, Jakarta.




Kandungan Kimia 

  • Daging buah : asam tartrat, asam malat, asam sitrat, asam suksinat, asam asetat, pektin, dan gula invert.
  • Daun : flavonoid, sitexin, isovitexin, orientin, 1-malic acid.
  • Kulit kayu : Tanin

Efek Farmakologi
  • Asam tartrat, asam malat, asam sitrat, asam suksinat, asam asetat : memperlancar BAB, melancarkan peredaran darah, mendinginkan.
  • Pektin : menurunkan kolesterol melalui mekanisme pengikatan kolesterol dan asam empedu kemudian mendorong dan mengeluarkannya dari saluran pencernaan.
  • Flavonoid : memperlancar BAB, penghilang rasa sakit, antiradang, dan membantu pengeluaran keringat.
  • Tanin : antiseptik.
  • Pro vitamin A : merupakan antioksidan yang menjaga kesehatan dan menghambat proses penuaan, dan dapat juga mencegah dan menekan pertumbuhan sel kanker serta melindungi asam lemak tidak jenuh ganda dari proses oksidasi. dan jika tubuh perlu vitamin A, maka pro vitamin A/beta karoten di hati akan diubah menjadi vitamin A.
  • Vitamin C : dibutuhkan untuk pembuatan kolagen (protein berserat yang membentuk jaringan ikat pada tulang), pengangkut lemak, pengangkut elektron dari berbagai reaksi enzimatik, pemicu gusi yang sehat, pengatur tingkat kolesterol, pemicu sistem kekebalan tubuh.
  • Vitamin C : untuk antioksidan, membantu mencegah berbagai macam jenis kanker: kanker paru, kolon, kandung kemih, pankreas, payudara, juga mengurangi radikal bebas pemicu kanker.
  • Vitamin C : dapat mengurangi resiko katarak, memperkuat dinding kapiler darah, mengurangi resiko penyakit jantung, menghambat penuaan, memperbaharui sel darah putih.
  • Vitamin C : sangat sensual untuk membentuk sperma, kekurangan vitamin C pada pria dapat menghambat dalam memperoleh keturunan, perbaikan membutuhkan waktu satu bulan dengan meningkatkan vitamin C sebanyak 500 mg, kualitas dan kuantitas sperma serta aktivitasnya dapat ditingkatkan dengan mengkonsumsi vitamin C.
  • Vitamin C : dapat mengurangi resiko pada perokok pasif. resiko perokok pasif adalah kerusakan sel yang biasa menyebabkan kanker atau penyakit pernafasan lain.
  • Kalsium : mengisi kepadatan tulang, membantu pembekuan darah, transmisi saraf, stabilitas asam-basa (pH) darah, dan mempertahankan keseimbangan air.
  • Kalium/potassium : memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa di dalam tubuh, juga berperan dalam transmisi saraf dan relaksasi otot serta sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik, terutama dalam metabolisme energi, sintetis glikogen, dan protein.
Kegunaan :
  • Daun :
  1. batuk
  2. bisul
  3. cacingan
  4. demam
  5. eksim, koreng, luka
  6. rematik
  7. sakit kuning
  8. sariawan
  9. susah tidur
  • Daging Buah
  1. abortivum
  2. cacingan
  3. demam
  4. disentri
  5. muntah
  6. menurunkan berat badan
  7. nafsu makan
  8. radang payudara
  9. sariawan
  10. sembelit
  • Kulit Kayu : kolik, sariawan
Dosis Pemakaian Umum :
Dalam : 15-30 gram rebus buah matang tanpa biji
Luar : daun biji, atau buah asam, rebus gunakan hasil rebusan untuk membasuh luka. atau daun yang muda giling halus atau dijadikan bubuk borehkan pada tempat yang sakit; borok, sakit pinggang, dan linu persendian.

Catatan :
  • wanita hamil dilarang makan daging buah asam yang sudah tua.
  • membuat madu asam : jemur asam kawak (daging buah asam yang ditanak atau dapat disimpan lama) secukupnya dalam wadah/bejana tertutup, sampai keluar cairan kental warna coklat kehitaman, madu asam ini bisa untuk mengobati sariawan.

Penelitian :
  • T. Chairun Filhayani, 1991, jurusan Farmasi FMIPA USU: melakukan penelitian efek antipiretik infus  daun asam pada burung merpati. hasilnya ternyata infus daun asam 10% dengan dosis 12 ml/kg BB mempunyai efek antipiretik.
  • Liony Julietta Rosmanadewi, 1993. Fakultas Farmasi UGM, Pembimbing Dr. Sujiwo P.,Apt. dan dr. Ngatijan, M.Sc Melakukan penelitian pengaruh infus daun asam terhadap kadar kolesterol. hasilnya ternyata infus daun asam dapat mencegah kenaikan kadar kolesterol secara bermakna.
Sumber : Abu Muhammad Faris al-Qiyanji. 2010. Kembali  ke Alam : Khasiat dan manfaat Tanaman Berkhasiat Obat. Cetakan Pertama. Jilid 1. Pustaka Lugu Alami. Bekasi