Friday, 24 June 2011

Firework_by Katy Perry

Do you ever feel like a plastic bag,
drifting through the wind
wanting to start again?
Do you ever feel, feel so paper thin
like a house of cards,
one blow from caving in?

Do you ever feel already buried deep?
6 feet under screams but no one seems to hear a thing
Do you know that there's still a chance for you
'Cause there's a spark in you

You just gotta ignite, the light, and let it shine
Just own the night like the 4th of July

'Cause baby you're a firework
Come on, show 'em what you're worth
Make 'em go "Oh, oh, oh"
As you shoot across the sky-y-y

Baby, you're a firework
Come on, let your colors burst
Make 'em go "Oh, oh, oh"
You're gonna leave 'em all in awe, awe, awe

You don't have to feel like a waste of space
You're original, cannot be replaced
If you only knew what the future holds
After a hurricane comes a rainbow

Maybe your reason why all the doors are closed
So you could open one that leads you to the perfect road
Like a lightning bolt, your heart will glow
And when it's time, you'll know

You just gotta ignite, the light, and let it shine
Just own the night like the 4th of July

'Cause baby you're a firework
Come on, show 'em what you're worth
Make 'em go "Oh, oh, oh"
As you shoot across the sky-y-y

Baby, you're a firework
Come on, let your colors burst
Make 'em go "Oh, Oh, Oh"
You're gonna leave 'em all in awe, awe, awe

Boom, boom, boom
Even brighter than the moon, moon, moon
It's always been inside of you, you, you
And now it's time to let it through-ough-ough

'Cause baby you're a firework
Come on, show 'em what you're worth
Make 'em go "Oh, Oh, Oh"
As you shoot across the sky-y-y

Baby, you're a firework
Come on, let your colors burst
Make 'em go "Oh, Oh, Oh"
You're gonna leave 'em all in awe, awe, awe

Boom, boom, boom
Even brighter than the moon, moon, moon
Boom, boom, boom
Even brighter than the moon, moon, moon 

Sunday, 19 June 2011

Analisis Vitamin C dalam Tablet Efferfescent

Pembuatan larutan indikator kanji 10%

  • ditimbang kanji dengan teliti sebanyak 1 gram
  • dilarutkan kanji tersebut dalam air panas 10 ml
  • diaduk hingga kelihatan merata dan homogen
Pembuatan larutan baku sekunder Na2S2O3 0,1 N
  • dilarutkan lebih kurang 26 gram natrium tiosulfat P dan 200 mg natrium karbonat dalam air
  • sebelumnya telah dididihkan dan didinginkan ad 1000 ml
Pembuatan larutan KI 10%
  • dilarutkan 16,3 gram kalium iodida P dalam air hingga 1000 ml
  • dimasukkan dalam wadah yang tidak tembus cahaya
Pembuatan larutan H2SO4 6 N
  • sebanyak 1000 ml aqua DM diukur dengan menggunakan gelas ukur, lalu sebanyak 500 ml aqua DM dan dimasukkan ke dalam sebuah gelas kimia
  • ditambahkan sebanyak kurang lebih 168 ml larutan H2SO4 yang pekat ke dalam botol reagen berisi aqua DM dengan perlakuan sambil diaduk
  • larutan kemudian didinginkan pada suhu kamar
  • larutan dipindahkan ke dalam botol reagen
  • sisa aqua DM di dalam gelas ukur, dimasukkan dalam botol reagen berisi larutan H2SO4
  • dilarutkan dan dihomogenkan dan diberi  suatu label
Pembuatan baku sekunder I2
  • dilarutkan lebih kurang 14 gram iodium P dalam larutan 36 gram kalium iodida P dalam 100 ml air
  • ditambahkan 3 tetes asam klorida P
  • diencerkan dengan air hingga 1000 ml
Pembuatan larutan baku primer KIO3 0,1000 N
  • ditimbang 0,1 larrutan baku 0,1 dan KIO3 0,37 gram
  • dimasukkan ke dalam labu ukur ukuran 100 ml
  • dilarutkan dalam air suling dan diencerkan sampai tanda batas
  • dikocok dengan baik agar lebih tercampuri semuanya
Pembuatan sampel vitamin C 
  • dilarutkan dalam 200 ml air tablet effervescent 
  • dimasukkan ke dalam labu ukur 500 ml, ditambah air 500 ml
Pembakuan larutan Na2S2O3 0,1 N
  • dipipet 10 ml larutan KIO3 0,1 N
  • ditambahkan 10 ml larutan KI 
  • ditambahkan 5 ml H2SO4 6 N
  • dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai warna coklat jerami
  • ditambahkan 2 ml larutan indikator kanji 10% kemudian dititrasi sampai warna biruu tua
Pembuatan larutan I2 0,1 N
  • dipipet 10 ml Na2S2O3 0,1 N 
  • ditambahkan 5 ml H2SO4 0,6 N
  • tambahkan 2 ml indikator kanji 10%, kemudian dititrasi sampai terbentuk warna biru tua
Penetapan kadar vitamin C 
  • dipipet 10 ml sampel vitamin C masukkan ke erlenmeyer 
  • ditambahkan 5 ml H2SO4 6 N
  • ditambahkan 2 ml larutan indikator kanji kemudian dititrasi sampai terbentuk warna biru tua

Thursday, 16 June 2011

Back To the Nature_TemuPutih



Sistematika Tumbuhan
Temu Putih
Curcuma zedoaria (Berg.) RoscoeNama umum
Indonesia:Temu putih
Inggris:Setwall, white turmeric
Vietnam:Bong truat
Thailand:Kha min oi
Pilipina:Luya luyahan
Cina:yu jin, jiang huang

Curcuma zedoaria

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Zingiberales
                             Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
                                 Genus: Curcuma
                                     Spesies: Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe

Kerabat Dekat
Temu Hitam, Temu Giring, Kunyit, Kunyit Mangga, Temu Putri, Temu Lawak, Kunyit Merah




sumber: 


Nama lain
White turmeric (Inggris), Zittwer (Jerman), Kachur / Ambhalad (India), dan Cedoaria (Spanyol) (Heyne, 1987).



Pertelaan / deskripsi menurut Gunawan (1988)
  • Perawakan : herba setahun, dapat lebih dari 2 m.
  • Batang : berupa rimpang yang bercabang di bawah tanah, berwarna coklat muda-coklat tua, di dalamnya putih atau putih kebiruan, memiliki umbi bulat dan aromatik.
  • Daun : tunggal, pelepah daun pembentuk batang semu berwarna hijau coklat tua, helaian 2-9 buah, bentuk memanjang lanset 2,5 kali lebar yang terlebar, ujung runcing meruncing, berambut tidak nyata, hijau atau hijau dengan bercak coklat ungu di tulang daun pangkal, 43-80 cm atau lebih. Daun pelindung berjumlah banyak.
  • Bunga : majemuk, susunan bulir, di ketiak rimpang primer tangkai berambut.
  • Kelopak : berjumlah tiga daun, berwarna putih atau kekuningan, bagian tengah berwarna merah atau coklat kemerahan, 3-4 cm.
  • Mahkota : tiga daun, putih kemerahan, tinggi rata-rata 4,5 cm.
  • Benangsari : satu buah tidak sempurna, bulat telur terbalik, kuning terang, 12-16x10- 11,5 mm, tungkai 3-5 x 2-4 kepala sari, 6 mm.
  • Buah : berambut rata-rata 2 cm.



Ekologi dan Penyebaran
Temu putih ditemukan tumbuh liar pada tempat terbuka yang tanahnya lembab pada ketinggian 0–10000 m dpl. Temu putih ditemukan di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Ambon, hingga Irian serta dibudidayakan di India, Bangladesh, Cina, Madagaskar, Filipina, dan Malaysia (Dalimartha, 2005).

Kandungan Kimia
Rimpang temu putih mengandung zat warna kurkumin (diarilheptanoid), minyak atsiri (Soedarsono, 1996), selain itu juga mengandung flavonoid, sulfur, gum, resin, tepung, dan sedikit lemak (Dalimartha, 2005).

Sifat dan Khasiat
Rimpang temu putih rasanya pedas, hangat, berbau aromatik.Temu putih termasuk tanaman obat yang menyehatkan darah. Rimpang temu putih berkhasiat antikanker, antiradang (antiflogistik), melancarkan aliran darah, tonik pada saluran cerna, peluruh haid (emenagog) dan peluruh kentut (Dalimartha, 2005).Selain itu berkhasiat untuk mengatasi memar, luka, keseleo, terantuk, terpukul, bisul (furunculus), bengkak, rematik, pegal linu, sengatan kalajengking atau ular (penawar racun/bisa), memulihkan tenaga sehabis melahirkan, menambah nafsu makan,menghilangkan nafas bau, cacingan, ambeien (hemorrhoids), demam, sakit gigi, jantung koroner, TBC, asma, radang saluran nafas (bronchitis), mencegah pembengkakan limpa dan mencegah kanker servik (Hariana, 2006). Khasiat lainnya yaitu sebagai antiinflamasi (Makabe dkk, 2006), analgesik (Ali dkk, 2004), antimikroba (Bugno dkk, 2007) dan antikanker (Syu dkk, 1998).

sumber : Dalimartha, S. 2005. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Trubus Agriwidya. Jakarta.
Gunawan, L. W., 1988. Teknik Kultur Jaringan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sudarsono., 1996. Daftar Tanaman Obat dan Khasiatnya. Jakarta







Fitokimia_Ekstraksi Polisakarida

Cara yang Dianjurkan 


Langkah Kerja Ekstraksi Umum

pemisahan polisakarida dari daun atau jaringan tumbuhan lain memerlukan suatu rangkaian ekstraksi yang secara terpisah menghilangkan senyawa berbobot molekul rendah dan polisakarida yang larut air. setelah ekstraksi berulang, sisa akan terdiri atas selulosa yang kira0kira murni. berbagai langkah kerja yang paling umum dipakai adalah sebagai berikut: 
  • kandungan berbobot molekul rendah dengan mudah dihilangkan dengan ekstraksi-habis memakai etanol mendidih. bila jaringan kaya akan lipid (misalnya biji), lebih baik menghilangkannya dengan ekstraksi menggunakan aseton yang dilanjutkan dengan eter-benzena (1 : 1). polisakarida netral dan larut dalam air sekarang diekstraksi memakai laritan NaCl 1% atau air mendidih. polisakarida tersebut didapatkan kembali dari larutan dengan menuangkan ekstrak itu ke dalam beberapa volume alkohol, dan terjadi pengendapan.
  • pektin diperoleh dari sisa tersebut di atas dengan ekstraksi memakai amonium oksalat 0,5% dan selanjutnya diendapkan dari larutan setelah pengasaman dan penuangan ke dalam alkohol. pada tahap ini lignin dihilangkan dengan ekstraksi memakai natrium klorit 1% PADA 70°C selama satu jam. bila jaringan kaya akan lignin, langkah kerja ekstraksi harus diulang beberapa kali. cara lain mengawaliligninkan dapat dilakukan dengan ekstraksi memakai kloramin-T (natrium p-toluena-sulfonkloramida) dan etanolamina. ekstrak ini dibuang dan sisa dicuci, kemudian dikeringkan.
  • kini hemiselulosa dihilangkan dengan mengekstraksi sisa dengan NaOH 7-12% dalam suasana gas nitrogen pada suhu kamar selama 24 jam. untuk memisahkan hemiselulosa secara sempurna, langkah kerja ekstraksi hendaknya diulang juga sekurang-kurangnya dua kali. hemiselulosa didapatkan kembali dengan mengasamkan ekstrak basa dengan asam asetat dan mengendapkannya dengan etanol. bahan yang tersisa kemudian dicuci betul-betul dan dikeringkan; ini merupakan fraksi selulosa murni.
  • berbagai fraksi polisakarida yang diperoleh itu kemudian difraksinasi lebih lanjut dan dimurnikan dengan berbagai langkah. pemisahan polisakarida linier dan bercabang dalam sembarang fraksi sering kali diperlukan. hal ini dapat dilaksanakan dengan mereaksikannya dengan iodium seperti ditunjukkan di bawah. kromatografi pertukaran ion dan kromatografi Sephadex dapat juga diterapkan pada fraksinasi polisakarida. 
sumber : Harborne, J.B.1987.Metode Fitokimia. Edisi kedua. ITB. Bandung.

Tuesday, 14 June 2011

Kuliah_Hubungan Kecepatan Disolusi dan Absorpsi Obat

Disolusi

  • merupakan proses dimana suatu bahan kimia atau obat menjadi terlarut dalam suatu pelarut.
  • dalam sistem biologik pelarutan obat dalam media aqueous merupakan suatu bagian penting sebelum kondisi absorpsi.
kinetika disolusi dapat dipengaruhi ::
  1. sifat fisikokimia obat
  2. formulasi
  3. pelarutan obat di dalam tubuh
secara in vitro faktor lain yang mempengaruhi adalah ::
  1. suhu dan sifat media
  2. kecepatan pengadukan
  3. bentuk dan volume wadah
  4. rancangan alat
  • uji kecepatan disolusi menjadi bagian dalam prosedur kontrol kualitas standar suatu produk obat.
  • ada bermacam-macam uji kecepatan disolusi antara lain rotaring basket method, paddle method.
syarat uji disolusi untuk pengujian suatu produk obat ::
  1. dipilih metode yang tepat, sehingga teruji korelasinya dengan kecepatan absorpsinya.
  2. setelah terbukti adanya korelasi maka akan dapat digunakan sebagai metode baku untuk prosedur pengendalian kualitas baku produk obat seperti yang telah terrcantum dalam literatur resmi seperti USP XX/ NF XX.
dalam USP XX/ NF XX disebutkan untuk uji kecepatan fenitoin natrium kapsuul ::
  1. untuk bentuk extended : setelah 30 menit yyang melarut tidak melebihi dari 35%. setelah 60 menit yang melarut antara 30-70% setelah 120 menit yang melarut tidak kurang dari 85%.
  2. untuk bentuk cepat : dalam waktu 30 menit yang melarut tidak kurang dari 85%.

Kecepatan Disolusi Vs Kecepatan Absorpsi 
  • jika kecepatan disolusi merupakan rate limiting step maka kecepatan disolusi yang lebih cepat menyebabkan kecepatan obat yang mencapai plasma juga lebih cepat.
  • waktu absorpsi dapat digunakan untuk menentukan korelasi antara data  disolusi dan data absorpsi.
  • dalam korelasi In Vivo-In Vitro, kecepatan absorpsi diketahui dari absorpsi paling lambat yaitu dari penelitian waktu absorpsi. 
  • waktu absorpsi menunjukkan waktu sejumlah obat yang kontan diabsorpsi. :
Contoh
dalam studi yang melibatkan 3 produk obat aspirin lepas lambat, waktu disolusi untuk preparasi berkorelasi secara linier dengan waktu absorpsi. dari studi ini disimpulkan bbahwa obat diabsorpsi cepat dan sangat tergantung dari kecepatan disolusi sebelum terjadinya absorpsi.

% Obat Terdisolusi Vs % Obat Terabsorpsi
  • jika obat diabsorpsi komplit setelah disolusi maka korelasi linier dapat dicapai dengan membandingkan % obat terabsorpsi dan % obat terdisolusi.
  • dalam pemiilihan metode disolusi, hal yang harus dipertimbangkan yaitu medium disolusi yang tepat dan menggunakan kecepatan stirer yang benar, sehingga disolusi in vivo dapat diperkirakan. 
  • jika obat diabsorpsi lambat dimana absorpsi sebagai rate limiting step perbedaan kecepatan disolusi mungkin tidak diperhatikan.
  • dalam kasus ini obat diabsorpsi sangat lambat dan tidak tergantung kecepatan disolusinya.
Kegagalan Korelasi Disolusi In Vitro dan Absorpsi In vivo
  • meskipun banyak obat dipublikasikan adanya korelasi antara disolusi dan absorpsi, tetapi ada juga yang korelasinya jelek.
  • tidak adanya korelasi antara bioavailabilitas dan absorpsi mungkin disebabkan oleh kompleksitas absorpsi obat dan kelemahan desain disolusi.

Kuliah_Pertimbangan Biologi

Lambung 
1. pH
  • untuk asam dan basa lemah pH akan mempengaruhi terjadinya absorpsi. pH lambung sekitar 1-3. ada beberapa faktor yang mempengaruhi pH cairan gastrik, antara lain : keadaan puasa dimana pH akan turun menjadi 1,2 atau 1,8; keadaan tidak puasa dimana pH biasanya menjadi lebih besar daripada pH normal; gastrrointestinal patolologi, dimana pH lambung akan turun pada orang yang menderita gastric ulcer.
  • efek pH gastrik pada absorpsi obat yaitu: Kelarutan dan stabilitas obat. pada kelarutan, absorpsi obat dalam perut melalui membran yang bersifat lipid. agar dapat menembus membran dan terabsorpsi maka obat tersebut harus dapat larut dalam lipid. pH mempengaruhi derajat ionisasi. pada stabilitas obat, obat dapat mengalami kerusakan akibat faktor pH, karena pH dapat menyebabkan kerusakan obat karena bersifat sebagai katalisator. sebagai contoh eritromisin yang dalam media asam (seperti di dalam lambung) akan terdekomposisi lebih cepat.
2. Kecepatan pengosongan lambung
  • setelah ditelan obat mencapai lambung dan kemudian masuk ke usus halus. karena usus halus kapasitas absorpsinya lebih besar maka bila kecepatan pengosongan lambung besar akan mengakibatkan obat diabsorpsi lebih cepat. 
  • semakin lama obat tertahan di lambung, maka absorpsi obat tersebut di dalam usus akan semakin lama. dengan demikian, apabila terjadi peningkatan kecepatan pengosongan lambung, maka akan terjadi peningkatan absorpsi obat. dan ternyata peningkatan absorpsi obat ini menyebabkan efek toksik karena tingginya kadar obat di dalam darah. hal ini berbahaya untuk obat-obat yang memiliiki indeks terapi sempit dimana saat obat masuk ke dalam lambung bersama dengan obat-obat yang memiliki kemampuan mempercepat pengosongan lambung, maka obat yang indeks terapinya sempit tadi akan meningkat kecepatan absorpsinya. akibatnya, kadar obat dalam darah pada periode awal, konsentrasinya meningkat melebihi batas toksik.
  • faktor-faktor yang mempengarruhi kecepatan pengosongan lambung :
  1. tipe makanan : dimana makanan yang mengandung asam lemak, trigliserida, karbohidrat dan asam amino umumnya mengurangi kecepatan pengosongan lambung.
  2. viskositas : dimana semakin besar viskositas semakin lambat kecepatan pengosongan lambung.
  3. volume makanan : volume makanan dalam lambung yang bertambah dapat meningkatkan pengosongan dari lambung. bukan karena tekanan yangg meningkat dalam lambung penyebab meningkatnya pengosongan lambung tetapi peregangan dinding lambung akibat volume makanan yang bertambah menyebabkan meningkatnya gerak peristaltik saluran cerna.
  4. hormon gastrin : pereganggan serta adanya jenis makanan tertentu dalam lambung menimbulkan dikeluarkannya hormon gastrin dari bagian mukosa lambung. hormon ini mempunyai efek yang kuat menyebabkan sekresi getah lambung yang sangat asam di bagian fundus lambung sehingga dapat meningkatkan gerak peristaltik saluran cerna.
  5. obat : obat yangg meningkatkan waktu pengosongan lambung antara lain ; metoklopramid, reserpin, antikolinesterase, sodium bikarbonat. obat yang menurukan waktu pengosongan lambung seperti isoniazid, central analgetic, morfin, klorokuin, fenitoin, AlOH, MgOH.
  6. status emosi : keadaan emosi, kegembiraan dapat mempercepat pengosongan lambung dan sebaliknya ketakutan dapat memperlambat pengosongan lambung.
  7. suhu makanan : mempengaruhi gerak peristaltik lambung.
Usus
  • agar obat dapat diabsorpsi optimal maka diperlukan agar obat tinggal di dalam usus (GI) sekitar 1-4 jam.
  • waktu transit obat di dalam GI terrgantung dari sifat farmakologi obat, bentuk sediaan obat dan faktor fisiologi yang bervariasi.
Absorpsi Obat di Usus Halus Lebih Efektif karena ::
  1. sifat fisikokimia obat dan pH lingkungan yang sesuai.
  2. keberadaan carrier dalam mukosa intestinal yang sangat berperan untuk proses transport aktif dan transport dipermudah.
  3. luas permukaan yang lebih besar karena terrdapat jonjot usus dan mikro villi.
konstituen normal dari GI tract dapat juga mempengaruhi absorpsi obat melalui kemampuannya untuk mengubah sifat fisikokimia obat.
  1. enzim : beberapa obat menjadi tidak mempunyai aktivitas biologi atau aktivitas berkurang setelah diberikan per oral. hal ini terjadi karena obat mengalami degradasi dimana proses ini dapat dikatalisator oleh adanya enzim dalam cairan gastrik.
  2. getah empedu : merupakan cairan kuning berlendir, kental mempunyai pH 6 dalam kantong empedu dan 7-7,5 saat memasuki duodenum. kandungan getah empedu : 
  • musin : berfungsi melindungi sel epitel dari kerusakan yang diakibatkan asam gastrik dan enzim. pengaruh musin sebagai barrier absorpsi sering diabaikan kecuali untuk kondisi tertentu seperti gastrik trauma dimana ketebalan lapisan musin bertambah sehingga dapat menghambat absorpsi obat.
  • garam empedu : garam empedu dapat menurunkan tegangan permukaan cairan disekitarnya dan dapat membentuk emulsi halus dari bahan berlemak sehingga memungkinkan terjadinya kontak yang lebih baik antara enzim dan obat hidrofob. garam empedu diperlukan dala penyerapan vitamin yang larut dalam lemak.

Kuliah_Biofarmasetik dari Produk Obat


Biofarmasetika ::
  • merupakan ilmu yang mempelajari hubungan sifat fisikokimia formulasi obat terhadap bioavailabilitas obat.
  • bioavailabilitas obat menyatakan kecepatan dan jumlah obat aktif yang mencapai sirkulasi sitemik.
  • biofarmasetika bertujuan untuk mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke sirkulasi sitemik agar pengobatan optimal.
Rangkaian Proses Biofarmasetika ::
  • disintergrasi
  • disolusi
  • absorpsi
Rate Limiting Step::
  • sangat terkait dengan kecepatan liberasi, disolusi, dan absorpsi.
  • RLS ditentukan oleh proses yang kecepatannya paling rendah diantara proses liberasi, disolusi, dan absorpsi. hal ini menentukan cepat lambatnya efek obat yang masuk ke dalam tubuh. tahapan ini yang menentukan kecepatan terjadinya aksi.
Perjalanan Obat melalui Membran ::
  • obat melewati membran sel : pertimbangan sifat fisiologi membran dan sifat fisikokimia obat.
  • kelarutan molekul obat dalam lipid : pertimbangan sifat lipofilik dan siifat hidrofilik.
  • sifat fisikokimia molekul obat : pertimbangan  ukuran molekul obat dan profil pH.
disamping sifat fisikokimia obat terdapat pula sejumlah fenomena pengangkutan fisiologi yang mempengaruhi mekanisme obat melewati membran sel :
  • difusi pasif : tenaga pendorong pada difusi pasif adalah perbedaan konsentrasi pada kedua sisi membran. menurut hukum Fick molekul obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi obat tinggi ke daerah dengan konsentrasi obat rendah.
  • transport aktif : dengan melawan gradien konsentrasi transport aktif dengan carrier, memerlukan energi yang diperoleh dari hidrolisa ATP dibawah pengaruh ATPase. carrier adalah suatu konstituen membran, enzim, atau setidak-tidaknya substansi protein, mampu membentuk kompleks dengan zat aktif dipermukaan membran dan lalu memindahkannya dan dilepaskan di sisi lain, dan selanjutnya carrier kembali ke tempat semula.
  • difusi dipermudah : pertolongan carrier, namun tidak memerlukan energi luar dan berjalan sesuai dengan gradien konsentrasi. contohnya adalah penetrasi glukosa ke dalam butir-butir sel darah merah. difusi ini tanpa bantuan ATP.
  • pinositosis : proses yang memungkinkan pelaluan molekul-molekul besar lewat membran, dikarenakan kemampuan membran membalut mereka dengan membentuk sejenis vesicle (badan dibalut) yang menembus membran.
  • convective : suatu mekanisme pasif, berkenaan dengan pelaluan zat melalui pori-pori membran yang terjadi disebabkan gradien tekanan hidrostatik/osmotik. dalam hal absorpsi, disebut absorpsi konvektif. untuk semua substansi berukuran kecil (BM<150), larut di dalam air melalui kanal-kanal membran ukuran 4-7 angstrom.
Waktu Transit Obat dalam Saluran Cerna ::
  • Duodenum mempunyai luas permukaan yang besar untuk absorpsi obat.
  • obat masuk ke saluran cerna di lambung selanjutnya ke usuus halus sehingga pencernaan dapat mempengaruhi laju absorpsi.
  • penundaan pengosongan lambung akan memperlambat proses absorpsi, sehingga efek terapetik tertunda.
Beberapa hal Cenderung Memperlambat Pengosongan lambung ::
  1. konsumsi makanan dengan lemak tinggi
  2. minuman dingin
  3. tingkat keasaman
  4. konsumsi obat-obat tertentu seperti metoklopramid dan Natrium dioksi kolat